Ads Google

Minggu, 27 Januari 2008

FADHAIL SHIYAM (KEUTAMAAN BERPUASA)

Muqaddimah
Firman Allah,
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al Baqarah : 183)
Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra berkata, “Bala’ pertama kali menimpa bagi umat ini sepeninggal Nabinya adalah kekenyangan, karena sesungguhnya kaum ketika kenyang perut mereka badan mereka menjadi gemuk, kemudian hati mereka melemah dan syahwat mereka bergejolak.” (Disebutkan oleh Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib).

Umar bin Khathab ra berkata, “Jauhilah olehmu kenyang dalam makan dan minum karena itu merusak tubuh, mendatangkan penyakit, membuat malas dari mengerjakan shalat dan kalian harus sederhana dalam makan dan minum. Karena itu lebih sesuai bagi tubuh dan lebih jauh dari melampaui batas, dan sesungguhnya Allah Ta’ala membenci pendeta yang gemuk dan sesungguhnya seseorang tidak akan rusak sehingga dia mengutamakan syahwatnya atas agamanya.”
Urgensi Shiyam dalam Tazkiyatun Nafs
1. Shiyam adalah satu bentuk ketaatan terhadap kewajiban syar’i untuk mencapai derajat taqwa. Tanpa shiyam tidak mungkin seseorang mencapai derajat tersebut.
2. Shiyam sebagai penghapus dosa, fitnah yang akan menimpa seseorang, keluarga, harta dan tetangganya. Rasulullah saw bersabda, “Fitnah terhadap seseorang dalam keluarga, harta dan tetangga akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” (HR Bukhari). Rasulullah saw ditanya tentang puasa ‘Asyura, maka beliau bersabda, “Ia menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR Muslim). Dan beliau ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda, “Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun berikutnya.” (HR Muslim)
3. Shiyam adalah sarana tazkiyatun nafs dan ibadah yang tidak ada tandingannya. Abu Umamah ra, berkata: Aku dating kepada Rasulullah saw, maka aku berkata: Perintahkan aku dengan amal yang memasukkan aku ke surga! Rasulullah saw menjawb: Atas kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya.”. Dan ketika aku datang lagi beliau perintahkan lagi untuk berpuasa. “Kamu harus berpuasa, (HR Ahmad,Nasai, dan Hakim, dia berkata: Hadits aShahih).
4. Shiyam adalah sarana efektif untuk menjauhkan diri dari siksa api neraka, karena puasa adalah perisai dan benteng yang kokoh dari api neraka. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah niscaya Allah menjauhkan Jahannam dari dirinya sejauh perjalanan seratus tahun.” (HR Nasa’I) Rasulullah saw bersabda, “Shiyam adalah perisai dan benteng yang kokoh dari siksa neraka.” (HR Bukhari)
5. Pahala shiyam langsung diperhitungkan oleh Allah sendiri. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebajikan dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu langsung untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya, karena ia rela meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.’” (HR Muslim)
6. Shiyam adalah sarana yang paling efektif untuk mengendalikan syahwat dan nafsu birahi, sehingga Rasulullah saw memerintahkan pemuda yang belum sanggup untuk menikah, sementara nafsu birahinya bergelora agar berpuasa. Beliau bersabda, “Dan barangsiapa yang belum mampu untuk menikah maka atasnya harus berpuasa, karena puasa itu baginya sebagai pengekang syahwat.” (HR Al Jama’ah dari Ibnu Mas’ud ra).
7. Orang yang berpuasa mendapatkan rahmat Allah lebih besar dibandingkan orang yang mendapatkan makanan saat tidak berpuasa. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berpuasa apabila di sampingnya disantap berbagai makanan, maka para malaikat bershalawat (memohonkan rahmat Allah) untuknya.” (HR Turmudzi).
8. Shiyam akan menjadi syafi’ (pembela) bagi orang berpuasa pada hari Kiamat nanti. Rasulullah saw bersabda, “Shiyam dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba pada hari kiamat. Shiyam berkata, ‘Ya Rabbi, hamba-Mu ini telah aku cegah dari makan, minum dan menuruti syahwatnya di siang hari. Maka berikanlah aku hak untuk memberi syafa’at (membelanya).’ Al Qur’an berkata, ‘Ya Rabbi, hamba-Mu ini telah aku cegah dari tidur di malam hari, maka berikanlah aku hak untuk memberi syafa’at (membelanya).’ Maka keduanya diizinkan memberi memberi syafa’at.” (HR Ahmad).
Fadhilah & Macam-macam Shiyam Sunnah
1. Puasa di bulan Muharram
 Rasulullah saw bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah yaitu Muharram dan shalat yang paling utama setelah fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim)
 Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw berpuasa pada hari ke sepuluh (‘Asyura) dan beliau memerintahkan puasa pada hari itu. (Muttafaqun ‘alaih).
 Dan beliau bersabda, “Sekiranya aku masih hidup sampai tahun depan pastilah aku berpuasa pada hari ke sembilan (Tasu’a).” (HR Muslim)
2. Puasa pada bulan Dzulhijjah, yaitu puasa hari Arafah. Dari Abu Qatadah ra,berkata: Rasulullah saw, pernah ditanya tentang puasa Arafah.
 Beliau bersabda: “Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim).
 Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada hari-hari bagi amal shalih di dalamnya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari awal bulan Dzul Hijjah.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau bersabda, “Kecuali seorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak pulang lagi dengan sesuatu apa pun dari itu.” (HR Bukhari)
3. Puasa enam hari di bulan Syawal
 Dari Abu Ayyub ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya enam hari dari bulan Syawal adalah baginya seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)
4. Puasa Senin dan Kamis
 Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bersabda, “Seluruh amal dihaturkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis maka aku senang amalku dihaturkan sedangkan aku tengah berpuasa.” (HR Turmudzi)
5. Puasa tiga hari setiap bulan, dan yang paling utama adalah ayyamul bidh, yaitu tanggal 13, 14 dan 15.
 Dari Abu Hurairah ra berkata, “Kekasihku yaitu Rasulullah saw berwasiat kepadaku dengan tiga hal: Berpuasa tiga hari setiap bulan, melakukan dua rekaat dhuha, dan shalat witir sebalum tidur. (Muttafaqun ‘alaih).
6. Puasa Dawud, yaitu satu hari berpuasa dan satu hari berbuka.
Rasulullah saw, besabda: “Puasa yang paling Allah cintai adalah puasa Dawud, dan shalat yang paling Allah cintai adalah shalat Dawud, ia tidur setengah malamnya, kemudian shalat sepertiganya dan tidur lagi seperenamnya. Dan dia berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
7. Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.
‘Aisyah ra, berkata: “Tak pernah aku mndapati Rasulullah saw, berpuasa sempurna sebulan penuh selain Ramadhan, dan tidak aku dapati beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.” (Muttafaq ‘Alaih).
8. Disunnahkan banyak berpuasa bagi para bujangan yang belum sanggup untuk menikah, sementara nafsu birahinya selalu bergelora.
 Rasulullah saw, bersabda: “Dan barangsiapa belum mampu untuk menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu baginya sebagai pengekang syahwatnya.” (HR. Bukhari).
Derajat Shiyam Yang Tertinggi
Puasa yang dilakukan oleh seorang mukmin sejati bukanlah sekedar menahan perut dan faraj dari menyalurkan syahwatnya, akan tetapi ia juga menahan pandangan, lisan, pendengaran, tangan, kaki, mata dan seluruh anggota tubuh dari segala dosa. Di samping itu ia juga menahan hati dari niat yang hina atau berfikir yang menjauhkan diri dari Allah sehingga seluruh jiwa raganya terkonsentrasikan untuk taat kepada Allah semata.

Read More......

AHWALUL MUSLIM ALYAUM (Ust. M Ihsan Arliansyah Tanjung )

Tema ini adalah suatu upaya untuk menggambarkan akan keadaan dunia Islam kontemporer (saat ini) dengan segala kelebihan dan kekurangan-kekurangannya. Kondisi umat Islam saat ini penuh dengan kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu terkait dengan kapasitas intelektual dan problematika moral.



Kelemahan dalam kapasitas intelektual (Al Jahlu)

Kelemahan umat Islam yang terkait dengan kapasitas intelektual meliputi:

Dho’fut Tarbiyah (lemah dalam pendidikan)
Kelemahan dalam aspek pendidikan formal dan informal (pengkaderan) sangat dirasakan oleh umat Islam masa kini. Jika pendidikan juga pembinaan dan pengkaderan lemah maka akan mustahil melahirkan anasir-anasir dalam nadhatul umat (kebangkitan umat).

Dho’fut Tsaqofah (lemah dalam ilmu pengetahuan)
Dewasa ini sedang sangat pesat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi umat Islam terasa tertinggal bila dibandingkan umat yang lainnya, ini disebabkan karena wawasan umat Islam yang sempit dan terbatas juga lemah dalam mengembangkan ilmu pengetahuan ini disebabkan kemauan umat untuk menuntut ilmu sangat rendah.

Dho’fut Takhthith (lemah dalam perencanaan-perencanaan)
Umat Islam sekarang ini tidak memiliki strategi yang jelas. Rencana perjuangannya penuh dengan misteri. Hal tersebut disebabkan umat Islam tidak diproduk dari pembinaan-pembinaan yang baik dan tidak memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang memadai.

Dho’fut Tanjim (lemah dalam pengorganisasian)
Sekarang ini terjadi gerakan-gerakan yang mengibarkan bendera kebathilan, mereka membangun pengorganisasian yang solid sementara umat Islam lemah dalam pengorganisasian sehingga kebathilan akn diatas angin sedangkan umat Islam akan menjadi pihak yang kalah. Sesuai perkataan khalifah Ali ra “Kebenaran tanpa sistem yang baik akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisasi dengan baik”.



Dho’ful Amniyah (lemah dalam keamanan)
Masa kini umat Islam lengah dalam menjaga keamanan diri dan kekayaan baik moril dan materil sehingga negeri-negeri muslim yang kaya akan sumber daya alam dirampok oleh negeri-negeri non muslim. Begitu pula dengan Iman, umat lslam tidak lagi menjaganya tidak ada amniyah pada aqidah dan dibiarkan serbuan-serbuan aqidah datang tanpa ada proteksi yang memadai.

Dho’fut Tanfidz (lemah dalam memobilisasi potensi-potensi diri)
Umat Islam dewasa ini tidak menyadari bahwa begitu banyak nikmat-nikmat yang Allah SWT berikan dan tidak mensyukurinya. Jika umat Islam mersyukuri segala nikmat Allah dari bentuk syukur itu akan muncul kuatut tanfidz yaitu kekuatan untuk memobilisir diri dan sekarang umat Islam lemah sekali dalam memobolisir diri apalagi memobilisir secara kolektifitas.

Kelemahan dalam problematika moral (Maradun Nafs)

Kelemahan-kelemahan dalam problematika moral yang terjadi pada umat Islam sekarang yaitu:

Adamus Saja’ah (hilangnya keberanian)
Umat Islam tidak seperti dahulu yang berprinsip laa marhuba illalah (tiada yang ditakuti selain Allah) sehingga tidak memiliki keberanian seperti orang-orang terdahulu yakni Rasulullah dan para sahabatnya yang terkenal pemberani. Sekarang ini umat Islam mengalami penyakit Al Juban (pengecut). Rasa takut dan berani itu berbanding terbalik sehingga jika seorang umat Islam takut kepada Allah maka ia akan berani kepada selain Allah tetapi sebaliknya jika ia takut kepada selain Allah maka ia akan berani menentang aturan-aturan Allah SWT.

Adamus Sabat (hilangnya sikap teguh pendirian)
Umat Islam mulai memperlihatkan mudah mengalami penyimpangan-penyimpangan dan perjalanan hidupnya karena disebabkan oleh :
1.termakan oleh rayuan-rayuan
2.terserang oleh intimidasi atau teror-teror.
Salah satu illutrasi hilangnya sabat (keteguhan) ini adalah prinsif-prinsif hidup kaum muslimin tidak lagi dipegang hanya sering diucapkan tanpa dipraktekan. Sebagai contoh Islam mengajarkan kebersihan sebagian dari Iman tetapi di negari-negeri kaum muslim kondisinya tidak bersih menjadi pemandangan pada umumnya.



Adamut Dzikriyah (hilangnya semangat untuk mengingat Allah)
Dalam Islam lupa diri sebab utamanya ialah karena lupa kepad Allah. Umat Islam dzikirullah-nya lemah maka mereka kehilangan identitas mereka sendiri sebagai Al Muslimum. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al Hasyr ayat 19 “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Adamus Sabr (hilangnya kesabaran)
Kesabaran merupakan salah satu pertolongan yang paling pokok bagi keberhasilan seorang muslim, sesuai firman Allah Qs.2:153 “Hai orang-orang beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.
Kesabaran meliputi:
1.Ashabru bitha’at (sabar dalam ketaatan)
2.Ashabru indal mushibah (ketaatan ketika tertimpa musibah)
3.Ashabru anil ma’siat (sabar ketika menghadapi maksiat)
Sebagai umat Islam harus memiliki kesabaran ketiganya.

Adamul Ikhlas (hilangnya makna ikhlas)
Ikhlas tidak identik dengan tulus. Tulus artinya melakukan sesuatu tanpa perasaan terpaksa padahal bisa saja orang itu ikhlas walaupun ada perasaan terpaksa. Contohnya pada seseorang yang melakukan shalat subuh yang baru saja jaga malam sehingga sanat terasa kantuk tetapi karena shalat adalah suatu kewajiban perintah Allah swt ia tetap mengerjakannya dsb.

Adamul Iltizam (hilangnya komitmen)
Dewasa ini kaum muslimin kebanyakan tidak istiqomah berkomitmen terhadap Islam bahkan tidak sepenuhnya sadar bahwa Islam harus menjadi pengikat utama dalam hidupnya sehingga mereka banyak menggunakan isme-isme yang lain.

Read More......

KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR’AN

1.Al Qur’an adalah Kalamullah
a.Kitab yang Mubarak (diberkahi) QS. 6 : 92
b.Menunun kepada jalan yang lurus Qs. 17 : 9
c.Tidak ada sedikitpun kebatilan di dalamnya QS. 41: 42

2.Membaca Al Qur’an adalah sebaik-baik amal perbuatan.
Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan AL Qur’an” HR Al Bukhariy dari Utsman bin Affan.


3.Al Qur’an akan menjadi syafi’ penolong di hari kiamat.
Rasulullah bersabda : Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan menjadi penolong pembacanya di hari kiamat “ HR Muslim dari Abu Umamah.

4.Beserta para malaikat yang mulia di hari kiamat.
Sabda Nabi : “Orang yang membaca Al Qur’an dan dia lancar membacanya akan bersama para malaikat yang mulia dan baik. Dan orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata, ia mendapatkan dua pahala “ Muttafaq alaih dari Aisyah ra.

5.Aroma orang beriman.
Sabda Nabi : “Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan buah utrujah, oromanya harum dan rasanya nikmat…..”

6.Penyebab terangkatnya kaum. Sabda Nabi :
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan akan menjatuhkannya dengan kitab ini pula” HR Muslim dari Umar bin Khatthab.

7.Turunnya rahmah dan sakinah.
Sabda Nabi : “Tidak ada satu kaum yang mereka sedang berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengitarinya, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah akan sebutkan mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya. HR. At Tirmidziy dan Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Said.

8.Memperoleh kebajikan yang berlipat ganda.
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata : Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia akan memperoleh satu hasanah (kebajikan). Dan satu hasanah akan dilipat gandakan menjadi sepuluh, saya tidak katakan alif lam mim satu huruf, akan tetapi ali satu hurf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. HR At Tirmidziy

9.Bukti hati yang terjaga/melek.
Dari Ibn Abbas ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur’an, maka ia bagaikan rumah kosong. HR At Tirmidziy.

Wallahu a’lam.

Read More......

Kewajiban Terhadap Rasul (Ust. DR. Hidayat Nurwahid)

Salah satu pilar iman adalah beriman terhadap para Rasul (QS 2:286). Ayat tersebut merupakan penegasan bahwa para rasul terdahulu itu beriman kepada rasul-rasul sebelumnya. Para Rasul adalah utusan Allah yang dipilih oleh-Nya dari tengah umat manusia, membawa ajaran yang benar, kemudian Allah memunculkan kebenaran mereka agar manusia dapat melestarikan kebenaran yang mereka bawa. Maka kita sebagai orang yang beriman pun memiliki kewajiban untuk meyakini bahwa para rasul itu diutus oleh Allah SWT, membawa ajaran kebenaran-Nya, dan kemudian mengikuti mereka. Terutama terhadap Nabi besar Muhammad SAW, sebagai penutup para Nabi dan penyempurna ajaran nabi-nabi sebelumnya.


Beriman kepada Rasulullah SAW merupakan salah satu konsekuensi dari pemahaman bersyahadah, yaitu Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Kesaksian kita akan jujur dan istiqomah jika diwujudkan menjadi sikap:

Membenarkan dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW (QS 52: 2-4)
Taat kepada Rasulullah SAW (QS 4:59-60)
Menjauhi apapun yang dilarang dan tidak disukai Rasulullah SAW (QS 59:7)
Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyari’ahkan oleh Rasulullah SAW. Sabda Nabi: “Tidak beriman diantara kamu sehingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang kubawa” (HR Tirmidzi)


Kewajiban Terhadap Rasulullah SAW

Adapun diantara kewajiban kepada Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

1.Beriman kepada Rasulullah SAW (QS 4:136/ 7:158)
Allah menegaskan perintah keimanan kepada Rasulullah SAW lewat ayat di atas. Perintah-perintah dalam al-Qur’an  secara umum ­ berarti suatu kewajiban. Mustahil kita dapat mengikuti Rasulullah SAW, jika tidak diawali dengan beriman kepadanya terlebih dahulu.

2.Ketaatan kepada Rasulullah SAW (QS 4: 80)
Ketaatan kepada Nabi akan membawa kepada sikap mau mengikuti beliau (ittiba’). Tidak ada ketaatan yang mutlak, kecuali dilakukan kepada manusia yang membawa kebenaran Allah SWT. Ketaatan kepada Rasulullah SAW pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah (QS 4:80). Manusia wajib taat kepada Allah, kemudian Allah menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasul adalah sebagian dari ketaatan kepada-Nya. Maka ketaatan kepada Rasul, wajib juga untuk umat Islam dan memiliki makna yang mendalam.

3.Mengikuti Rasulullah SAW (QS 3:31)
Yang kita lakukan dalam konteks beribadah, bermu’amalah dan berakidah harus mengikuti Rasulullah SAW, sebagaimana telah dicontohkan oleh beliau. Para ulama membuat sebuah kaidah: hal-hal yang berkaitan dengan masalah ibadah dan akidah hukum dasarnya tidak boleh, kecuali apa yang dicontohkan Rasulullah SAW kecuali ada dalil yang mengatakan boleh. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah (hubungan sesama umat manusia) hukum dasarnya adalah boleh, kecuali bila ada dalil yang mengatakan tidak boleh. Ittiba’ ini merupakan bagian dari rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW. Mencintai Allah tak akan mungkin terjadi kecuali kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah SAW.

4.Bersholawat kepada Rasulullah SAW
Bila nama beliau disebut, kita wajib menyampaikan sholawat untuknya. Hal ini salah satu syarat turunnya syafaat di hari kiamat kelak.

5. Memahami bahwa Rasulullah SAW adalah Nabi penutup (QS 33:30)
Nabi adalah nabi terakhir, penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi, rasul dan wahyu setelahnya. Umat Islam tidak perlu terjebak akan adanya klaim dari manusia yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Jikapun ada, bisa dipastikan bahwa hal itu palsu, tidak perlu diikuti bahkan harus diingkari. Aqidah tentang khotmun nubuwwah (Muhammad nabi terakhir) akan membebaskan kita dari masalah teologis. Kita tidak perlu lagi mencari ajaran-ajaran kewahyuan di luar ajaran Nabi SAW.

6.Membela Rasulullah SAW
Sikap cinta perlu dibuktikan dengan pembelaan kepada Rasulullah SAW. Khususnya dari pihak yang ingin mendiskreditkan, memfitnah Rasulullah SAW. Pembelaan kepada beliau berarti juga pembelaan kepada kebenaran dan keberlangsungan ajaran Islam. Allah selalu membela Nabi, dengan menurunkan mu’zijat, memberikan kemampuan berdebat, bahkan dengan menurunkan para malaikat kepada beliau.

Beberapa kewajiban kita kepada Rasulullah SAW, dilakukan karena dalam diri beliau terdapat panutan (suri teladan) yang baik dengan pengharapan pertemuan dengan Allah dan keselamatan dari azab api neraka (QS 33:21). Rasulullah SAW adalah tokoh yang layak, berkaitan dengan masalah moralitas, ibadah, dakwah, pendidikan, sosial, politik, perjuangan ekonomi, rumah tangga, bahkan peperangan. Melaksanakan kewajiban kepada Rasulullah SAW akan sempurna jika kita memahami karakteristik risalah yang dibawa beliau. Diantaranya adalah:
Ajaran Nabi Muhammad adalah penggabungan ajaran rasul-rasul sebelumnya. Sehingga ajaran Nabi SAW adalah ajaran yang mensejarah dan berkaitan dengan kebenaran iman dan kebenaran syari’ah para nabi terdahulu (QS 2:136).
Ajaran Muhammad bersifat universal (QS ). Allah mengutus Rasulullah SAW untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Risalah Nabi SAW cocok untuk semua kelompok manusia dan semua zaman. Hal ini dimungkinkan karena ajaran Islam karena Islam memenuhi kebutuhan realitas kehidupan. Di dalam al-Qur'an ada dialog antara wahyu dengan umat manusia, antara Rasulullah SAW dengan Allah, antara Rasulullah SAW dengan kaumnya.
Ajaran Islam mementingkan yang mudah bagi manusia, menghilangkan yang sulit. Yang dimaksud dengan yang mudah bukan memudah-mudahkan. Melainkan kemudahan yang sesuai dengan fitrah manusia, yang sesuai denganr realisasi yang ma’ruf dan upaya untuk meninggalkan yang munkar.

Itulah beberapa kewajiban yang dapat dilakukan terhadap para rasul, khususnya Rasulullah SAW dan spesifikasi ajaran yang dibawa beliau. Sebagai bukti konsekuensi ikrar syahadah kepada Rasulullah SAW. Kita berupaya semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakannya. Semoga Allah memberikan kemudahan.

Read More......